Pemilu yang digemakan sebagai Pesta Demokrasi di negeri ini sudah semakin dekat. Tinggal menghitung hari. Kampanye yang dilakukan, mulai dari tingkat caleg, partai hingga kandidat pemimpin negara, semakin gencar terlihat. Beragam bentuk dan media kampanye digunakan untuk mendongkrak popularitas demi menangguk perolehan suara sebanyak-banyaknya. Apalagi sejak system pemenangan berubah dari nomer urut menjadi perolehan suara terbanyak. Popularitas tentulah menjadi hal yang sangat menentukan peraihan kemenangan.

Ajang ‘’kompetisi’’ perebutan kursi jabatan hingga kekuasaan 5 tahunan itu akhir-akhir ini semakin menyita perhatian dan memenuhi berita-berita seluruh media di Indonesia. Kini hampir setiap hari tayangan di berbagai stasiun televisi, maupun isi cetakan harian negeri ini berisi berita mengenai segala bentuk persiapan menjelang perhelatan akbar pegelaran demokrasi bangsa ini, hingga promosi dan iklan para petarung di ajang kompetisi itu.

Seluruh pihak yang berkepentingan atas pemenangan ‘’kompetisi’’ itu sejak jauh hari telah menggelar beragam bentuk kampanye. Tengok saja jutaan lembar poster yang tersebar di seluruh penjuru negeri ini, dari sekitar 20 ribu caleg yang siap bertarung di tingkat pusat maupun daerah. Belum lagi iklan-iklan sekian banyak partai di berbagai media massa, entah dalam bentuk cetak hingga elektronik.

Terbayangkah berapa banyak dana yang digelontorkan untuk seluruh upaya pemenangan itu?? Ratusan juta, bahkan mungkin milyaran hingga trilyunan rupiah!! Terutama sejak hitungan pemenangan didasarkan pada raihan suara terbanyak. Maka tak pelak lagi, setiap peserta ajang kompetisi ini wajib meningkatkan popularitasnya demi mendapatkan suara rakyat sebanyak-banyaknya. Segala daya upaya, berbagai bentuk program promosipun ditempuh.

Dalam liputan sebuah media massa, terbaca betapa mahalnya biaya yang harus di’’bayar’’ oleh seorang caleg, baik untuk kegiatan pendekatan kemasyarakat, poster, spanduk, atribut-atribut kampanye lainnya seperti kaus dan topi hingga pembelian slot ataupun kolom pada sejumlah media (media buying). Ya, beragam bentuk iklan, baik dalam bentuk hardpromo maupun softpromo (yang bersifat terselubung di balik kemasan sebuah artikel seperti sebuah advertorial), tentulah tidak bersifat cuma-cuma. Dibutuhkan sejumlah dana besar untuk ‘’membeli’’ slot pelbagai media.

Dana yang dikeluarkan akan semakin besar apabila coverage serta oplah media tersebut tergolong besar. Tumpukan rupiah yang harus digelontorkanpun akan semakin tebal bila frekuensi penayangan iklan semakin sering dan memakan ruang ataupun waktu tayang utama (main page / prime time). Ditambah lagi bila sang caleg ataupun kandidat memiliki kemampuan financial sangat besar hingga mampu menempatkan sisipan (insertion) dalam bentuk media yang kental beraroma ‘’propaganda’’, sebagai suplemen di harian terkemuka berskala nasional dan beroplah besar. Hitung saja berapa jumlah rupiah yang harus dikeluarkan untuk biaya cetak sebuah media sisipan dengan format menyerupai tabloid untuk disertakan dalam ratusan ribu oplah sebuah surat kabar, ditambah biaya penyisipan yang dibayarkan kepada surat kabar yang bersangkutan.

Pada tayangan sebuah stasiun televisi mengenai liputan kampanye, seorang caleg diberitakan mengeluarkan biaya hingga hitungan milyar rupiah ‘’hanya’’ demi menaikkan popularitasnya. Seorang caleg lain dengan nada ringan berujar bahwa dana kampanye yang digelontorkannya termasuk sedikit, hanya berkisar ratusan juta rupiah saja.

Kisaran sedikit-banyaknya jumlah dana yang dikeluarkan tentulah menjadi sangat relative dalam hal ini. Bilangan ratusan juta rupiah bagi sang caleg mungkin tidak seberapa demi sebuah tujuan lebih besar yang tengah disasarnya. Namun bagi sebagian besar rakyat, tentunya angka tersebut sangatlah berarti bagi modal kelanjutan hidup dan masa depan seluruh keluarganya. Dengan jumlah tersebut, sebuah rumah yang sangat memadai sudah dapat dimiliki. Sebuah mobil kategori mewah telah dapat terparkir di garasi. Sebuah ‘’kemewahan’’ yang bagi kebanyakan rakyat kecil di negeri ini, yang masih bergulat dengan kesulitan menyambung hidup hari demi hari, hanya merupakan angan yang mustahil untuk tergapai.

Itu baru dana kampanye seorang caleg di tingkat pusat maupun daerah. Bilangan dana yang dikucurkan oleh sebuah partai dan kandidat pemimpin negara untuk beroleh kemenangan tentu lebih fantastis lagi. Tayangan iklan pada slot waktu-waktu utama (prime time) dengan frekuensi tayang yang cukup tinggi di berbagai stasiun televisi berskala nasional tentunya memakan biaya tidak sedikit. Milyaran rupiah pastilah tercapai.

Menyaksikan seluruh eforia kampanye, gempita penyambutan Pesta Demokrasi, serta anggaran dana yang sungguh mencengangkan itu, saya tergelitik untuk meniliknya dari sisi sebuah investasi. Menurut hemat saya, dengan ‘’pengorbanan’’ dana yang sedemikian besarnya, tentu tak heran bila dana kampanye akan diperlakukan bagai sebuah investasi bernilai tinggi oleh siapapun yang mengucurkannya. Dan layaknya sebuah investasi maka sang investor tentulah mengharapkan nilai pengembalian atas rupiah demi rupiah yang telah ditanamkannya.

Dalam ilmu ekonomi-keuangan, objektivitas dasar dari sebuah investasi adalah berusaha memperoleh pengembalian dan keuntungan sebesar mungkin atas setiap modal yang ditanamkannya, dalam batas toleransi resiko yang dapat diterima, dengan tetap konsisten pada tujuan awal investasi.

Prosentasi tingkat pengembalian investasi atau biasa disebut Return On Invesment (ROI), yang merupakan rasio antara laba bersih (net profit) dengan besarnya modal (equitas) yang telah ditanamkan, memang sangat ditentukan oleh harapan investor dan tingkat toleransi yang dapat diterimanya. Sehingga pada setiap akhir periode investasi yang telah ditetapkannya, investor selalu menghitung besarnya tingkat pengembalian investasinya yang secara sederhana dapat diperoleh dengan formula sbb:

ROI = Laba bersih/Modal

Dalam kerangka pemikiran tersebut maka ada tiga objektivitas dasar dari sebuah investasi yaitu :
- pendapatan (income)
- pertumbuhan modal (capital growth)
- mempertahankan modal (capital preservation)

Seorang investor setidaknya memiliki satu dari tiga objektivitas dasar tersebut.

Untuk seorang investor yang berorientasi pada pendapatan (income), tentu akan sangat memperhatikan tingkat pendapatan sekarang terhadap keseluruhan jumlah modal yang sudah ditanamkannya.

Adapun seorang investor yang memiliki orientasi pertumbuhan modal (capital growth) akan menetapkan jangka waktu pencapaian objektivitasnya, dengan selalu melakukan evaluasi atas pertumbuhan kapitalnya dari waktu ke waktu.

Sedangkan bagi seorang investor dengan orientasi mempertahankan nilai kapital akan mencari diversifikasi portfolio yang lebih banyak dalam upaya menjaga agar nilai kapitalnya tidak mengalami penurunan, dengan menjaga tingkat resiko seminimal mungkin dan perolehan margin yang wajar dan dalam batas toleransi penerimaannya.

Jelaslah bahwa setiap investor dengan tingkat toleransi resiko dan harapan apapun, pada dasarnya memiliki objektivitas (tujuan) yang sama yaitu :
- tingkat pengembalian modal
- hasil (yield) yang diharapkan dari modal yang diinvestasikan

Dengan pengertian ini berarti tidak ada satupun investor yang menginginkan nilai modalnya berkurang, bahkan selalu mengupayakan agar modal yang telah ditanamkan dapat meningkat.

Sebuah investasi dipengaruhi oleh berbagai factor yang harus dipertimbangkan oleh seorang investor karena dapat mempengaruhi besarnya tingkat pengembalian nilai investasinya. Disamping besar modal yang diinvestasikan, waktu juga sangat berperan penting dalam sebuah investasi. Panjang pendeknya rentang waktu pengembalian modal investasi, cepat lambatnya investasi ditanamkan, semua akan sangat berpengaruh pada besarnya nilai pengembalian itu sendiri.

Kini mari kita simak peran waktu dalam tingkat pengembalian nilai investasi.

Dalam prinsip ekonomi-keuangan maka nilai masa depan (future value) dari sejumlah uang merupakan nilai dari sejumlah dana yang ada saat ini pada suatu tanggal tertentu di masa depan dengan menerapkan bunga majemuk (compound interest) dalam satu periode tertentu. Adapun pengertian bunga majemuk adalah tingkat bunga yang diperoleh atas satu investasi dimana bunga tersebut menjadi bagian dari modal pokok (principal) pada satu periode spesifik.

Secara sederhana dapat dikatakan bahwa nilai uang yang diinvestasikan saat ini diharapkan akan memberi sejumlah nilai uang yang lebih besar di masa depan karena adanya proses bunga berbunga dari nilai uang tersebut. Dalam proses tersebut setiap bunga yang diperoleh ditanamkan kembali sebagai bagian dari modal investasi yang tentunya akan berbunga kembali.

Dengan memperhitungkan tingkat bunga, maka nilai masa depan (future value) dari sejumlah dana saat ini dapat dihitung dengan formula sbb:

FV = PV x (1+i)n

dimana:
FV : Future Value (nilai uang di masa depan)
PV : Present Value (nilai uang saat ini)
i : interest rate per compounding (tingkat suku bunga majemuk)
n : periode investasi

Untuk mudahnya berikut sebuah ilustrasi dari nilai masa depan sejumlah dana yang diinvestasikan saat ini.

Katakanlah seorang caleg menggelontorkan dana sebesar Rp.8.000.000,- pada masa kampanye periode ini dengan harapan akan terpilih untuk masa kerja 5 tahun ke depan. Bila dana sebesar itu ditanamkannya dalam bentuk investasi (semisal deposito) dengan tingkat bunga sebesar 6 % per-tahun untuk jangka waktu 5 tahun, maka pada akhir tahun ke 5 jumlah uang yang didepositokannya tersebut akan menjadi senilai:
PV = Rp. 8.000.000,-
i = 6 %
n = 5 tahun

FV = 8.000.000 x (1+0,06)5 = Rp.10.705.804,-

Dengan kata lain, bila uang sejumlah Rp.8.000.000,- saat ini diinvestasikan dalam bentuk deposito dengan tingkat suku bunga sebesar 6 % per tahun selama 5 tahun, maka investor akan mendapatkan uangnya telah berkembang menjadi Rp.10.705.804,- di akhir tahun ke 5.

Perhitungan tsb hanya untuk modal awal sejumlah Rp.8.000.000,-. Tentu dapat dibayangkan besarnya jumlah dana yang diharapkan akan diraup kembali di akhir tahun ke 5, bila modal awal yang telah ditanamkanpun dalam bilangan ratusan juta, milyaran hingga trilyunan rupiah.

Ilustrasi di atas hanya menggambarkan bagaimana peningkatan modal investasi seseorang bila hanya menanamkan modal di awal periode.

Bagaimana bila dalam periode 5 tahun tersebut, sang investor selalu menambah jumlah dana yang diinvestasikan secara rutin di akhir tahun sepanjang periode tsb?

Pada konteks ini maka nilai masa depan di akhir tahun ke 5 dari dana yang ditanamkannya akan dapat dihitung dengan formula anuitas umum (ordinary annuity) sbb:

FVa = PV x [((1+i)n – 1)/i]

dimana:
FVa: future value of an ordinary annuity (nilai uang di masa depan dengan anuitas umum)
PV : present value (nilai uang saat ini)
i : interest rate (tingkat suku bunga)
n : periode investasi

Berikut ilustrasi yang dapat menggambarkannya :
Seseorang menanamkan dana sebesar Rp.1.000.000,- setiap akhir tahun selama 5 tahun ke dalam bentuk deposito dengan bunga sebesar 10 % per-tahun.

Maka dengan perhitungan anuitas umum akan diperoleh nilai investasi tersebut di akhir tahun ke 5 sebesar :
FV5 = 1.000.000 x [((1+0,1)5 – 1)/0,1] = Rp.6.105.100,-

Dapat disimpulkan bahwa seseorang yang secara rutin menabung sebesar Rp.1.000.000,- di setiap akhir tahun dalam bentuk deposito dengan bunga sebesar 10 % per-tahun selama 5 tahun, akan mendapatkan uang sejumlah Rp.6.105.100,- di akhir tahun ke 5.

Dan bagaimana pula bila sang investor selalu menambah jumlah dana yang diinvestasikan di awal tahun sepanjang periode 5 tahun tsb?

Besarnya nilai masa depan dari jumlah investasi tsb di akhir tahun ke 5 dapat dihitung dengan formula annuity due sbb:

FVd = PV x [(((1+i)n+1 - 1)/i) - 1]

Dengan menggunakan formula tsb, apabila seorang investor secara rutin menabungkan uang sejumlah Rp.1.000.000,- di setiap awal tahun, maka besarnya uang di akhir tahun ke 5 menjadi:
FV5 = 1.000.000 x [(((1+0,1)5+1 - 1)/0,1) - 1] = Rp.6.715.610,-

Sehingga dengan dana sebesar Rp.1.000.000,- yang diinvestasikan secara rutin di setiap awal tahun selama periode 5 tahun, seorang investor akan memperoleh dana sejumlah Rp.6.715.610,- di akhir tahun ke 5.

Sekarang mari kita lihat bagaimana seorang investor dapat memperkirakan besarnya jumlah dana yang harus diinvestasikannya saat ini bila ingin mendapatkan sejumlah dana yang sudah diharapkannya pada masa depan.

Dengan menggunakan formula Present Value maka dapat dihitung besarnya investasi saat ini agar dapat memperoleh sejumlah dana di masa depan, sbb:

PV = FV x [1/(1+i)n ]

dimana:
PV: present value (nilai uang yang harus diinvestasikan saat ini)
FV: future value (nilai uang yang diharapkan di masa depan)
i : interest rate (tingkat suku bunga)
n : periode investasi

Ilustrasi berikut dapat menggambarkan hal tsb :
Seorang caleg menginginkan dalam satu tahun sejak dia terpilih, telah dapat mengumpulkan dana (‘’balik modal’’ kampanye) sebesar Rp.3.000.000,-. Seandainya dia menaruh modal yang digunakan untuk kampanye dalam bentuk tabungan (deposito) dengan tingkat suku bunga sebesar 6 % per-tahun, maka agar dapat memperoleh dana sebesar Rp.3.000.000,- di akhir tahun mendatang, saat ini dia harus menginvestasikan sebesar :
PV = 3.000.000 x [1/ (1+0,06)1] = Rp.2.830.188,-

Dengan demikian, untuk dapat memperoleh uang sebesar Rp.3.000.000,- di akhir tahun pertama masa kerjanya, maka saat ini caleg terpilih tsb haruslah menginvestasikan dana sejumlah Rp.2.830.188,-.

Dari beberapa ilustrasi di atas, terlihat jelas betapa nilai uang yang sama bila diinvestasikan dalam waktu yang berbeda akan sangat mempengaruhi hasil perolehan. Dengan nilai uang yang sama yang diperoleh pada saat ini akan memberikan nilai pertambahan yang semakin besar dibandingkan dengan nilai uang yang sama yang diperoleh di masa depan. Hal ini disebabkan semakin tertundanya sejumlah uang diperoleh maka semakin besar kemungkinan hilangnya peluang (opportunity loss) untuk berinvestasi.

Sehingga semakin besar dan semakin dini dana diperoleh untuk dapat diinvestasikan, maka akan semakin besar tingkat pengembalian (yield) yang dapat diraih oleh seorang investor, karena adanya fungsi efek majemuk (multiply effect) dari peluang menginvestasikan kembali (re-investasi) bunga yang diperoleh.

Bagi sebagian masyarakat yang sudah memiliki asuransi sebagai salah satu bentuk investasi penjamin hari tua tentu telah pernah melihat ilustrasi sejenis yang umumnya dipresentasikan oleh agen asuransi. Berdasarkan pengertian diatas, tak pelak agen asuransi kerap menganjurkan konsumen potensialnya untuk sesegera mungkin mengambil polis asuransi.

Tidaklah mengherankan apabila seorang caleg ataupun para kandidat pemimpin bangsa yang telah mengucurkan sedemikian besar modal pada saat kampanye sebagai bentuk investasi atas ‘’karir politik’’nya, acap terjebak dalam bujukan dan keinginan untuk segera memperoleh kembali modal berikut sejumlah hasil ‘’investasi’’ yang diharapkan. Dapat dipahami bila dalam 5 tahun masa kerja, bagi mereka yang menganggap biaya kampanye sebagai sebuah ‘’investasi’’ (penjamin kehidupan bila sudah tidak lagi menjabat), akan sudah mulai berupaya mengumpulkan kembali modalnya sejak tahun-tahun awal masa jabatannya, agar memperoleh peluang (opportunity) yang lebih besar menginvestasikan (memutar) kembali uang yang diperolehnya. Mudah dimengerti bila seorang caleg ataupun kandidat terpilih yang merasa telah ‘’berkorban’’ dana demikian besar, akan terus menerus berupaya mengumpulkan dana sepanjang masa kerjanya, sehingga secara rutin dapat menginvestasikan kembali rupiah demi rupiah yang diperolehnya. Dan tidaklah sulit untuk dibayangkan bila seorang caleg / kandidat terpilih bahkan sudah dapat menentukan ‘’nilai transaksi’’ yang diinginkannya sekarang, untuk dapat memenuhi target perolehan keuntungan investasi di akhir masa jabatan. Semua dilakukan dengan tujuan untuk mengembalikan modal yang telah dikucurkan dan mendapatkan keuntungan (gain) semaksimal mungkin. Tujuan dasar dari sebuah investasi.

Dalam dunia investasi dikenal istilah High Risk High Gain, yaitu bila resiko yang terkandung dalam investasi semakin besar, maka keuntungan yang diperoleh dari investasi tersebut akan semakin besar pula. Dengan prinsip keuntungan berbanding lurus terhadap resiko, maka tidaklah heran bila cukup banyak para caleg terpilih yang tergiur untuk menempuh ‘’resiko’’ lebih besar, bahkan melalui cara-cara illegal sekalipun, guna mendapatkan perolehan keuntungan lebih besar.

Prinsip dan konsep investasi yang telah diuraikan di atas tidak hanya berlaku bagi caleg terpilih. Pada dasarnya semua basis ilmu pengetahuan berlaku umum (general) dalam penerapannya. Begitupun dengan prinsip dan konsep investasi yang berakar dari cabang ilmu ekonomi.

Sehingga bila dana yang digunakan oleh seorang caleg, partai ataupun kandidat pejabat apapun berasal dari pihak penyandang dana lain (bukan dari pundi-pundi pribadi), tentulah para penyandang dana juga mengharapkan pengembalian atas sejumlah dana yang sudah ‘’diinvestasikan’’ pada caleg / kandidat tersebut. Semakin besar dana yang diberikan untuk menyokong kemenangan sang caleg, maka semakin besar pula pengembalian investasi (Return On Investment / ROI) yang diharapkan.

Tak pelak, sejumlah kemudahan (privilege), baik dalam bentuk proyek, prosedur maupun perizinan lalu diberikan oleh sang penguasa / pejabat / wakil rakyat terpilih kepada para ‘’donatur’’ kampanyenya, sebagai upaya untuk menjamin perolehan ROI yang diharapkan dan disepakati dalam ‘’kontrak sokongan dana politik’’ di awal masa kampanye.

Kampanye biaya tinggi yang memerlukan ‘’penanaman modal’’ tidak sedikit inilah yang meningkatkan kecenderungan pergeseran dalam ranah politik di negeri ini dari politik Transformasional (yang sejatinya harus mampu membawa bangsa & negara ini bertransformasi ke arah peningkatan kondisi kesejahteraan, kemakmuran rakyat dan kehidupan demokrasi yang lebih baik) menjadi politik Transaksional, dimana setiap tindakan yang diambil oleh mereka yang terpilih acap didasarkan pada perhitungan Untung & Rugi (Profit & Loss) atas sejumlah besar dana yang telah ditanamkan pada masa-masa kampanye.

‘’No Free Lunch’’, demikian bunyi motto di negara yang cenderung berkiblat ke bentuk ekonomi kapitalis, yang menjadikan modal sebagai factor utama yang menentukan setiap keputusan. Sehingga tak dapat dipungkiri, sejatinya di ‘’tangan’’ para pemilik modal arah & masa depan bangsa ini ‘’diputuskan’’, walau berbungkus perpanjangan tangan melalui mereka yang mengatasnamakan dirinya sebagai wakil rakyat ataupun pengelola negara. Hal ini tak lain dan tak bukan karena semua bentuk sokongan dana tentu tidak dikucurkan oleh para pemodal secara cuma-cuma, tapi dengan pamrih ROI.

Perubahan system pemenangan dari nomer urut menjadi suara terbanyak memang belum terbukti keunggulannya, karena system tersebut baru akan diterapkan pada Pesta Demokrasi tahun ini. Satu hal yang sudah terlihat jelas dalam masa kampanye ini adalah system baru tersebut telah membuat dana kampanye yang dibutuhkan setiap caleg, partai maupun kandidat untuk meraih popularitas, menjadi sangat tinggi. Namun apapun bentuk system yang diterapkan, tetap dapat memberi peluang terhadap setiap bentuk penyimpangan bila tidak ada fungsi control.

Sangat penting disadari oleh rakyat negeri ini untuk selalu menjalankan fungsi control sosial atas penyelenggaraan negara untuk mencegah semakin mengakarnya bentuk politik transaksional menjadi sebuah budaya politik di negeri ini. Alur dan pencatatan perolehan (sumber) dan besarnya dana kampanye yang jelas, transparan & terbuka pada seluruh rakyat merupakan salah satu kunci utama untuk dapat menjalankan fungsi control sosial masyarakat atas pengelolaan negara yang bersih & professional serta tegaknya demokrasi di republik ini.

-(Pri)Mora Harahap-

12 Maret 2009

note:
tulisan ini dipostingkan juga di blog Kompasiana (Kompas.com) dan Detik blog (Detik.com) pada kategori politik-bernegara, serta di PriMora's blog
(@ http://primoraharahap.blogspot.com/)